Ketahui Berbagai Fakta Penting Tentang Tulang Manusia

Tulang adalah salah satu organ manusia yang paling penting. Manusia memiliki struktur tulang yang lebih dikenal dengan sebutan sistem kerangka tubuh manusia, yang berfungsi untuk menopang seluruh komponen tubuh manusia. Bisa dibayangkan jika tubuh manusia tidak memiliki tulang, maka tubuh tidak akan bisa tegak berdiri. Tulang yang mulai terbentuk sejak dari bayi dalam kandungan, berlangsung dengan terus hingga dekade kedua dalam susunan yang teratur.

fakta penting tentang tulang manusia

Berikut ini terdapat berbagai fakta tentang tulang manusia :

1. Bayi memiliki tulang lebih banyak dibandingkan dengan orang dewasa

Pada bayi yang baru lahir memiliki tulang sekitar 300 komponen tulang termasuk tulang rawan. Sedangkan pada orang dewasa memiliki 206 tulang didalam tubuhnya. Saat mengalami masa pertumbuhan, maka tulang bayi akan mengalami proses pertumbuhan tulang yang lebih besar. Karena hal ini dapat menyebabkan jumlah tulang manusia menjadi berkurang ketika dewasa.

2. Jumlah tulang dibagian tangan dan kaki adalah yang terbanyak

Jumlah tulang yang ada dibagian tangan masing-masing sebanyak 27 tulang, sedangkan dibagian kaki masing-masing memiliki 26 tulang. Apabila dijumlah semuanya, maka tulang pada tangan dan kaki memiliki 106 tulang, yang artinya tangan dan kaki akan tersusun lebih dari setengah jumlah tulang diseluruh tubuh. Tulang yang memiliki beragam bentuk dan juga ukuran yang tidak meraya diseluruh tubuh. Karena pasalnya pada beberapa bagian tubuh yang memiliki jumlah tulang lebih banyak dibandingkan dengan yang lain seperti tangan dan kaki.

3. Tulang bukan bagian terkeras sistem kerangka

Fakta dari tulang lainnya ternyata bagian terkeras dari sistem kerangka bukanlah tulang, tetapi enamil gigi. Menurut Institute of Health, pada zat ini berfungsi untuk melindungi mahkota gigi serta mengandung konsentrasi mineral yang tinggi khususnya pada kalsium garam.

Artikel terkait : Obat Pengapuran Sendi

4. Terdapat satu tulang yang tidak terhubung ke tulang lain

Dari 206 tulang, ternyata terdapat satu tulang yang tidak terhubung pada tulang lain yaitu tulang hyoid. Tulang hyoid memiliki bentuk seperti tapal kuda yang berbentuk seperti U. Tulang tersebut terletak di antara dagu dan juga tulang rawan tiroid atau yang didasari lidah. Fungsi dari tulang hyoid yaitu untuk membantu gerakan lidah saat akan menelan dan menghasilkan berbagai suara pada manusia.

5. Manusia memiliki tulang baru setiap tujuh tahun

Tulang yang mampu meremajakan dirinya sendiri dalam setiap tahunnya. Namun tidak hanya itu, tetapi tulang juga bisa tumbuh kembali. Perlu diketahui bahwa fakta tentang tulang ternyata memiliki tulang yang baru setiap tujuh tahun.

6. Tulang terpanjang dan terpendek

Pada tulang paha (femur) memiliki ukuran yang terpanjang diantara tulang-tulang lainnya. Tidak hanya itu, femur juga merupakan tulang yang terkuat dan terberat. Sedangkan pada tulang terkecil dalam tubuh terletak di area telinga bagian dalam yang disebut dengan tulang sanggurdi atau stapes, yang hanya memiliki panjang sebesar 3 mm.

7. Lengan termasuk tulang yang rawan patah

Lengan adalah salah satu tulang yang paling sering mengalami patah, bahkan hampir pada setengah dari orang dewasa pernah mengalami patah tulang. Sedangkan pada anak-anak, tulang selangka merupakan tulang yang paling rawan patah.

8. Ada orang yang memiliki jumlah tulang rusuk lebih

Pada kebanyakan orang dewasa memiliki 24 tulang rusuk (12 pasang), tetapi terdapat satu dari setiap 500 orang yang memiliki jumlah tulang rusuk berlebih atau yang disebut dengan tulang rusuk serviks atau tulang rusuk leher. Biasanya tulang rusuk terebut akan muncul di dekat leher dengan ukuran dan juga bentuk yang bervariasi. Pada umumnya gangguan tersebut disebabkan oleh adanya kelainan bawaan yang ditemukan dengan cara kebetulan.

Dalam kasus yang jarang terjadi ini, tulang rusuk dapat menyebabkan gangguan kesehatan yang disebut dengan sindrom outlet toraks atau sindrom outlet dada. Pada gangguan ini ditandai dengan rasa sakit dibagian leher atau bahu, yang mengalami otot lemah disekitar otot tangan, pembekuan darah serta masalah lainnya.

| Ketahui Berbagai Fakta Penting Tentang Tulang Manusia

Advertisements

Gejala Radang Sendi Yang Perlu Anda Ketahui

Radang sendi lutut atau yang disebut dengan osteoarthritis lutut merupakan salah satu kondisi yang paling umum terjadi. Osteoarthritis adalah suatu kondisi yang dimana terdapat bantalan alami antara sendi dan tulang rawan yang menghilang sehingga akan menyebabkan peradangan pada bagian persendian. Pada kondisi tersebut dapat terjadi selama bertahun-tahun atau juga dapat dipercepat karena cedera pada lutut, cedera ligamen, patah tulang lutut, meniskus robek atau adanya infeksi. Selain itu juga kondisi osteoarthritis dapat terjadi pada orang yang masih muda, tetapi cenderung lebih beresiko setelah usia 45 tahun.

gejala radang sendi lutut yang harus diketahui

Berikut ini beberapa gejala radang sendi lutut

1. Pembengkakan

Gejala awal yang terjadi pada radang sendi lutut yaitu peradangan di bagian lutut yang ditandai dengan adanya penimbunan cairan di bagian lutut, sehingga lutut akan menjadi bengkak, nyeri ketika ditekan, kulit di daerah lutut berubah menjadi berwarna merah dan akan terasa hangat jika disentuh. Kondisi pembengkakan ini terjadi terutama saat lutut tidak melakukan suatu aktivitas dalam waktu yang lama. Seperti setelah bangun tidur. Apabila keluhan ini telah berlangsung lama, maka biasanya akan sulit untuk melakukan pengobatan dengan obat anti radang atau obat lain yang bebas dijual.

2. Rasa nyeri yang hilang-timbul

Rasa nyeri radang sendi lutut bisa muncul secara tiba-tiba, tetapi akan lebih cenderung secara perlahan dan hilang-timbul. Seseorang yang mengalami kondisi tersebut akan merasakan rasa sakit hanya di pagi hari atau setelah selesai melakukan suatu aktivitas yang sudah lama tidak dilakukan. Lutut juga akan terasa nyeri ketika menaiki tangga, berlutut, berdiri dari posisi duduk, atau bahkan hanya duduk saja. Tidak jarang pada beberapa orang mengalami radang sendi juga akan mengalami rasa nyeri pada persendian lututnya saat sedang udara dingin.

3. Bentuk lutut berubah

Radang sendi pada lutut bisa menyebabkan perubahan bentuk pada area lutut, yakni tampak adanya cekungan dikarenakan otot menjadi lemah dibagian tersebut. Banyak orang yang mungkin tidak menyadari pada perubahan bentuk lutut hingga radang sendi yang sudah memasuki derajat yang lebih parah.

4. Lutut bersuara ketika digerakan

Lutut akan mengeluarkan suara pada radang sendi lutut, hal itu dikarenakan sendi sudah kehilangan tulang rawan. Fungsi dari tulang rawan yaitu dapat membantu dalam menghaluskan gerak. Suara yang muncul yaitu tanda bahwa sendi bergerak pada permukaan kasar dan hanya terjadi pada seseorang yang mengalami radang sendi lutut.

5. Lutut terasa kaku

Dengan seiring berjalannya waktu, otot lutut yang semakin melemah sehingga menyebabkan struktur sendi menjadi tidak stabil. Sendi tersebut dapat menempel atau mengunci sehingga tidak bisa melakukan penekukan atau meluruskan lutut.

6. Terbatasnya melakukan gerakan

Kondisi arthritis akan membuat Anda semakin sulit untuk menggerakan lutut. Ketika radang sendi memburuk, maka pada bagian persendian sangat sulit untuk berfungsi normal sehingga dapat menghambat pada aktivitas sehari-hari. Selain itu juga mungkin akan mengalami suatu masalah ketika sedang berjalan karena lutut tidak bisa untuk menahan beban tubuh yang membuat Anda untuk memerlukan bantuan seperti tongkat atau alat bantu jalan.

Apakah radang sendi lutut bisa diobati? Bagaimana caranya?

Tujuan utama untuk mengobati radang sendi lutut yaitu untuk meringankan rasa sakit sehingga akan memungkinkan untuk bisa bergerak dan beraktivitas kembali. Radang sendi yang ringan dapat diobati dengan mengonsumsi obat pereda nyeri, seperti paracetamol. Untuk penanganan di rumah sakit seperti beristirahat, memberikan kompres dingin diselingi dengan kompres yang hangat pada lutut yang nyeri, serta menjaga berat badan supaya dapat meringankan gejala tersebut.

Untuk menangani radang sendi lutut yang berat, maka sebaiknya untuk konsultasikan guna untuk mendapatkan pengobatan yang tepat. Setelah dokter melakukan pemeriksaan, maka penanganan lebih lanjut seperti fisioterapi, obat-obatan resep dokter hingga tindakan operasi akan diperlukan untuk mengobati radang sendi lutut.

Related post :

| Gejala Radang Sendi Yang Perlu Anda Ketahui

Benarkah Posisi Duduk “W” Berdampak Pada Kesehatan Anak?

Perlu diketahui bahwa posisi duduk “W” ternyata bisa menimbulkan masalah pada bagian panggul anak atau ortopedi. Maka dari itu sangat perlu diperhatikan posisi duduk si kecil saat sedang bermain atau nonton tv. Karena mungkin saja akan menemukan posisi si kecil dengan menyerupai huruf “W”. Pada sebagian besar anak, posisi tersebut merupakan posisi yang paling nyaman bagi si kecil. Tetapi jika keadaan posisi tersebut dilakukan secara berulang-ulang atau terus menerus maka sangat berbahaya.

benarkah posisi duduk w berbahaya pada kesehatan anak

Dalam sebuah survei telah menemukan bahwa terdapat 4 dari 5 anak memiliki kebiasaa dengan duduk posisi huruf W. Pada kebanyakan, anak-anak memiliki kebiasaan saat mereka berusia antara 4-6 tahun, meskipun juga bisa saja dibawah usia 4 tahun lebih tua dari 6 tahun. Dari kebiasaan ini maka lama kelamaan akan menghilang saat si kecil sudah berusia 8 tahun.

Hingga saat ini posisi duduk W masih menjadi pro dan kontra. Dari beberapa ahli juga menyatakan bahwa posisi duduk W akan memberikan berat badan berlebih pada bagian panggul dan lutut anak sehingga akan menimbulkan cedera pada bagian sendi. Selain itu bagi seorang anak yang memiliki gangguan kesehatan pada tulang kaki, maka posisi tersebut akan memperparah kondisinya.

Sebenarnya sampai saat ini juga masih belum ada penelitian atau bukti ilmiah yang menyatakan posisi tersebut yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan pada anak. Namun menurut seorang dokter ahli tulang dari Boston Children’s Hospital menyatakan bahwa anak-anak yang sering duduk dengan posisi W sebagian besar dari mereka terlahir dengan bentuk lutut yang mengarah ke dalam. Jadi posisi duduk ini otomatis akan mereka lakukan untuk memperbaiki bentuk lututnya.

Artikel terkait : Obat Pengapuran Sendi

Berikut ini ada beberapa gangguan pada perkembangan anak karena posisi duduk “W”

Posisi duduk W memang umum dilakukan oleh anak-anak terutama ketika si kecil sedang bermain. Tetapi posisi tersebut dapat memicu pada beberapa masalah kesehatan seperti :

  • Otot kaku

Posisi duduk ini ternyata dapat menyebabkan posisi pada bagian paha, otot hip adductors, otot yang berfungsi untuk pemutar bagian tubuh ke dalam dan urat keting (otot diatas tumit) saling berdekatan. Jika si kecil mudah mengalami kekakuan pada otot atau terdeteksi mengalami pemendekan otot permanen maka sebaiknya mintalah untuk duduk dengan posisi yang lain.

  • Gangguan ortopedi

Kebiasaan anak duduk dengan posisi seperti ini maka dapat menyebabkan si kecil menderita dislokasi panggul (displasia). Dislokasi panggul merupakan suatu kondisi cacat bawaan atau kelainan pada struktur tubuh yang disebabkan oleh keluarnya panggul yang lemah dari tempat aslinya. Jika salah satu anggota keluarga yang memiliki riwayat displasia atau riwayat kesehatan lainnya yang berkaitan dengan displasia maka sebaiknya untuk menghindari posisi duduk seperti ini.

  • Gangguan neurologis / keterlambatan perkembangan

Ketika seorang anak mengalami pertumbuhan pada massa otor berlebih atau yang disebut dengan hypertonia atau spasticity, maka posisi duduk W akan mengakibatkan perkembangan gerak anak menjadi semakin abnormal, salah satu kondisi yang biasanya dihindari oleh banyak terapis otot.

Memilih posisi duduk lainnya maka akan sangat membantu si kecil dengan masalah otot atau terlambatnya pada perkembangan tumbuh yang lebih baik.

Related post : Ketahui Kondisi Hip Dysplasia Pada Bayi Akibat Salah Menggendong

Benarkah Posisi Duduk “W” Berdampak Pada Kesehatan Anak?

Benarkah Obesitas Dapat Menurunkan Kepadatan Tulang?

Obesitas dapat ditandai dengan nilai indeks massa subur lebih besar dari 27. Selain akan berdampak pada penyakit jantung dan pembuluh darah, ternyata obesitas juga dapat beresiko kemana-mana, termasuk pada kesehatan tulang. Apa saja dampak yang bisa terjadi? Bagaimana obesitas dapat mempengaruhi kondisi tulang? Yuk simak selengkapnya dibawah ini.

benarkah obesitas bisa menurunkan kepadatan tulang

Menurut penelitian menunjukkan bahwa kondisi obesitas ternyata dapat mengurangi kepadatan tulang serta bisa meningkatkan resiko mengalami patah tulang. Pada dasarnya tulang memiliki kemampuan untuk selalu memperbarui diri, yaitu dengan cara menghancurkan jaringan tulang yang sudah rusak dengan sel osteoklas, serta membangun pada jaringan tulang baru dengan sel osteoklas. Maka apabila kecepatan dari keduanya berjalan dengan seimbang, maka tulang juga akan senantiasa padat serta kuat. Sedangkan pada orang yang memiliki berat badan lebih atau obesitas, biasanya kecepatan akan memperbarui jaringan tulang tersebut tidak seimbang.

Dilansir dari laman Healthline, waktu kecepatan dalam membangun jaringan baru tulang akan cenderung berkurang pada kelompok yang mengalami obesitas. Sedangkan, pada proses penghancuran jaringan tulang akan meningkat sebanyak 3 kali lebih cepat pada kelompok yang mengalami obesitas. Proses penghancuran akan lebih banyak dibandingkan dengan pembentukan alhasil dalam membuat kepadatan tulang yang semakin berkurang. Apabila kepadatan tulang menurun, maka tentu saja tulang akan mudah cedera atau patah.

Seberapa besar dampak kondisi obesitas pada tulang?

Obesitas osteosarcopenic merupakan suatu kondisi buruk pada kepadatan tulang dan massa otot sekaligus dengan terjadinya penumpukkan lemak yang berlebih didalam tubuh. Pada umumnya hal ini akan terjadi pada orang dewasa dan lansia. Menurut salah seorang ahli osteosarcopenic, obesitas osteosarcopenic ini diduga akan menjadi perhatian yang paling penting di masa depan, karena terdapat tiga kondisi kesehatan yang menjadi satu. Dari tiga kondisi tersebut yaitu osteoporosis (kehilangan massa tulang), sarcopenis (kehilangan massa otot) dan obesitas.

Artikel terkait : Obat Pengapuran Pada Sendi

Sedangkan menurut Jasminka Ilich Ernst, seorang profesor bidang gizi di Florida State University menyatakan bahwa obesitas bukan hanya akan membuat tubuh memiliki resiko tinggi mengalami masalah pada kesehatan jantung dan pembuluh darah, tetapi juga dapat menyebabkan masalah pada tulang. Pada kebanyakan penelitian melihat efek dari obesitas pada kasus metabolik dibandingkan dengan kasus pada tulang, akan tetapi dampak dari obesitas pada tulang tidak bisa disepelekan.

Dengan melakukan perubahan gaya hidup merupakan salah satu cara yang bisa mencegah atau menunda terjadinya obesitas osteosarcopenic supaya berat badan bisa terjaga keseimbangannya serta resiko mengalami masalah tulang dan otot lebih kecil. Karena tidak ada perawatan yang khusus dalam kasus ini, selain dengan menjaga asupan makanan dan aktivitas olahraga.

Ternyata tidak hanya pada orang dewasa saja, kondisi obesitas juga bisa berdampak pada kesehatan tulang anak. Berikut adan beberapa dampak yang mungkin terjadi, diantaranya :

1. Beresiko patah tulang dan bertubuh pendek

Obesitas pada anak memiliki peluang besar mengalami patah tulang. Seperti yang telah dilansir dari News Medical Life Sciene, anak yang obesitas akan lebih cenderung mengalami patah tulang pada bagian growth plate mereka. Growth plate adalah bagian jaringan tumbuh di ujung tulang panjang. Bagian tersebut menghasilkan jaringan tulang baru sehingga pada tulang anak akan semakin panjang serta anak dapat semakin tinggi. Bagian tulang panjang yaitu seperti pada bagian kaki dan lengan.

Kondisi patah tulang pada bagian growth plate akan membuat fungsi jaringan yang tidak normal. Tentunya kondisi tersebut akan mengganggu pada proses pemanjangan tulang yang dapat menghasilkan tinggi badan anak kurang secara permanen, tulang bengkok bahkan arthritis.

2. Telapak kaki datar

Selain itu dampak dari obesitas juga berpengaruh terhadap telapak kaki. Anak-anak obesitas sering memiliki telapak kaki yang datar. Kondisi tersebut akan membuat mereka menjadi lebih mudah lelah ketika sedang berjalan. Sebaiknya kondisi tersebut melakukan latihan peregangan yang terfokus pada tendon di bagian tumit, menggunakan alas kaki khusus guna untuk memperbaiki bentuk kaki, serta pengaturan berat badan supaya dapat mengurangi beban yang semakin berat.

3. Terjadi gangguan pada perkembangan koordinasi

Menurut American Academy of Orthopaedic Surgeons, anak-anak yang mengalami kondisi obesitas akan sering mengalami kesulitan dalam gerakan mereka, seperti :

  • Gejala anak yang mengalami masalah dengan gerakan motorik kasar yaitu gerakan berdiri satu kaki, dan gerakan melompat.
  • Masalah dengan motorik halus seperti menggunting, menulis atau mengikat tali sepatu.

Pada kondisi gangguan tersebut dapat mengganggu atau bahkan membatasi kemampuan anak ketika berolahraga. Maka hal tersebut akan berpotensi pertambahan berat badan pada anak.

| Benarkah Obesitas Dapat Menurunkan Kepadatan Tulang?

Mengenal Penyakit Tulang Osteopenia Sejak Dini

Saat kita membahas mengenai penyakit tulang, maka biasanya osteoporosis yang akan langsung terlintas pada pikiran kita. Pada penyakit osteoporosis kerap terjadi menyerang pada lansia yang memang cukup meresahkan banyak orang, terutama para wanita yang beresiko lebih besar mengalami penyakit osteoporosis dibandingkan dengan pria. Tetapi, pernahkah Anda mendengar mengenai penyakit tulang lainnya yaitu Osteopenia?

mengenal penyakit osteopenia sejak dini

Apa itu osteopenia?

Osteopenia adalah suatu kondisi yang dimana tulang memiliki kepadatan mineral tulang yang lebih rendah dari tingkat normal, tetapi tidak terlalu rendah layaknya apabila seseorang terkena osteoporosis. Akan tetapi hal ini tidak akan membuat tulang sangat rapuh seperti penyakit osteoporosis, karena osteopenia bisa mempengaruhi pada kekuatan dan juga kepadatan tulang secara siginfikan.

Osteopenia terjadi saat sel tulang mengalami pergantian, yang dimana jumlah dari sel yang telah hancur lebih banyak dibandingkan dengan sel tulang yang baru dibentuk. Sehingga akan mengakibatkan simpanan mineral dalam tulang yang menjadi lebih sedikit. Pada proses ini cenderung secara perlahan, namun faktor gaya hidup yang tidak sehat dan nutrisi tulang yang tidak tercukupi akan membuat dalam mempercepat pada proses perkembangan osteopenia.

Terjadinya peralihan osteopenia menjadi osteoporosis dapat dipengaruhi oleh kesehatan dan juga kepadatan tulang orang yang masih muda atau sebelum memasuki usia 30 tahun. Perlu diketahui pada orang yang memiliki tulang sehat, kondisi osteopenia bisa muncul diatas usia 50 tahun. Sehingga hilangnya kepadatan tulang tidak akan selalu berujung pada osteoporosis, karena hal tersebut juga sangat dipengaruhi oleh gaya hidup, aktivitas sehari-hari, pola makan, serta kecukupan suplemen nutrisi tulang.

Faktor Resiko Osteopenia

Karena hilangnya kepadatan tulang yang merupakan hal yang wajar dan terjadi karena perkembangan usia, sehingga osteopenia akan lebih mungkin terjadi jika :

  • Perempuan yang mengalami perubahan hormonal akibat menopause
  • Perempuan yang dengan riwayat kehamilan di usia remaja
  • Gangguan makan atau pada asupan nutrisi yang tidak tercukupi
  • Memiliki tulang yang kurang padat secara genetik
  • Sering mengalami menorrhea (pendarahan berlebih ketika menstruasi)
  • Mengalami stress yang tidak terkontrol
  • Sering merokok dan minuman alkohol
  • Mengonsumsi kafein yang berlebih dari soda, coklat, teh dan minuman berenergi
  • Memiliki kondisi badan yang kurus
  • Kurang beraktivitas fisik dan gaya hidup yang buruk

Artikel terkait : Obat Pengapuran Sendi

Perlu diketahui juga bahwa kondisi penurunan kepadatan pada tulang dapat dipicu oleh adanya suatu penyakit tertentu, seperti :

  • Asma
  • Peradangan kronis seperti arthritis, leukimia, limfoma, lupus
  • Peradangan degeneratif seperti kanker dan diabetes
  • Penyakit hati
  • Penyakit celiac
  • Mengalami berbagai sindroma malabsorbsi
  • Memiliki riwayat transplantasi organ
  • Kekurangan hormon gonad, tiroid dan paratiroid
  • Kelebihan hormon steroid akibat dari penyakit atau penggunaan hormon steroid
  • Penggunaan obat tertentu yang dapat menurunkan kepadatan tulang seperti obat diuretik, obat epilepsi, anti kanker dan terapi hormon tiroid.

Osteopenia tidak akan menimbulkan rasa nyeri atau gejala lainnya, tetapi tulang yang rapuh akan mudah patah. Kondisi tulang yang mudah patah tersebut dikarenakan kondisi osteopenia yang sudah berkembang menjadi osteoporosis. Kondisi tulang yang rapuh juga dapat menimbulkan efek terhadap rusaknya tulang belakang karena sulit untuk dikenali karena tidak menimbulkan gejala yang spesifik. Dengan seiring berjalannya waktu maka tulang belakang yang mengalami osteopenia akan mengalami perubahan postur tubuh sehingga seseorang cenderung akan terlihat membungkuk serta tinggi badan tampak berkurang.

Apakah osteopenia dapat dicegah?

Pada dasarnya, melakukan pencegahan bertujuan untuk mencegah tulang mengalami percepatan kerusakan. Anda dapat mengubah gaya hidup seperti berhenti merokok, hindari minuman alkohol dan memulai untuk melakukan aktivitas fisik yang memang merupakan suatu hal yang sangat penting dilakukan. Aktivitas olahraga dengan mengangkat beban merupakan salah satu aktivitas fisik yang paling efektif untuk mempertahankan kepadatan tulang. Serta penuhi juga kebutuhan nutrisi seperti kandungan kalsium dan vitamin D. Dengan mengonsumsi suplemen makanan sebagai tambahan juga boleh dilakukan, tetapi sebaiknya untuk konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter.

| Mengenal Penyakit Tulang Osteopenia Sejak Dini

Masalah Umum Yang Sering Terjadi Pada Kaki Seiring Bertambahnya Usia

Tubuh akan semakin rentan terhadap penyakit karena dengan seiring bertambahnya usia, salah satunya yaitu penyakit pada kaki yang banyak dikeluhkan oleh orang tua dan lansia. Sehingga akan mengalami rasa tidak nyaman. Lalu apa saja masalah yang sering terjadi atau menyerang pada orang tua dan lansia? Yuk simak ulasannya berikut ini.

Karena dengan seiring bertambahnya usia, maka tubuh tidak akan mampu lagi untuk memproduksi kolagen dengan jumlah yang banyak. Padahal kolagen tersebut merupakan protein khusus yang bertanggung jawab untuk menjaga elastisitas dan kekenyalan kulit serta dapat mencegah terjadinya osteoporosis pada tulang. Selain itu kolagen juga berfungsi untuk menjaga pada kesehatan persendian. Sehingga kadar lemak tubuh juga akan ikut menurun dengan seiring bertambahnya usia.

Berikut ini masalah kaki yang umum terjadi pada lansia :

masalah kaki yang sering terjadi seiring bertambahnya usia

1. Kulit telapak kaki menjadi kering dan pecah-pecah

Menurunnya kadar lemak dan kolagen dengan seiring bertambahnya usia akan membuat laisan lemak dibawah kulit kaki menjadi semakin menipis. Sehingga akan mengakibatkan kulit telapak kaki harus bekerja dengan lebih ekstra ketika menahan beban tubuh. Karena tanpa adanya bantalan lemak di telapak kaki, maka akan lebih mudah merasakan kesakitan setelah seharian melakukan aktivitas.

Maka hal ini juga akan menyebabkan kulit telapak kaki menjadi kering dan mudah pecah, bahkan akan terasa gatal atau terasa panas seperti terbakar. Sehingga akan menyebabkan kapalan karena terjadinya suatu tekanan secara terus menerus.

2. Keratosis seboroik

Keratosis seboroik adalah timbulnya lesi atau suatu benjolan dengan warna yang lebih gelap daripada kulit yang ada disekitarnya. Lesi ini termasuk jinak sehingga tidak diperlukan melakukan perawatan medis, meskipun cenderung akan membuat kulit terasa gatal.

Ciri dari keratosis seboroik hampir sama dengan kanker kulit melanoma. Untuk itu apabila lesi kulit mengalami perubahan warna, ukuran ataupun bentuk, sebaiknya konsultasikan pada dokter guna untuk mencegah perkembangan penyakit.

Artikel terkait : Obat Pengapuran Sendi

3. Kuku menjadi tebal

Kuku pada lansia sangat rentan menjadi menebal dan mengeras, tetapi akan lebih rapuh. Hal tersebut terjadi pertumbuhan kuku menjadi lambat karena bertambahnya usia. Kuku yang tumbuh lambat juga bisa dipengaruhi oleh perubahan hormon. Terjadinya kuku pada jari-jari kaki juga dapat disebabkan oleh masalah kesehatan lainnya, seperti penyakit arteri perifer (PAD), hipotiroid, sirkulasi oksigen dalam tubuh yang terhambat, serta infeksi jamur pada kuku kaki.

4. Stucco keratosis

Stucco keratosis termasuk pada salah satu penyakit kaki yang pada umumnya sering dialami oleh lansia, terutama pada bagian punggung kaki dan pergelangan kaki. Kondisi stucco keratosis ini akan tampak seperti permukaan plester dengan warna yang menyerupai kulit atau lebih cerah. Pada masalah ini dapat diobati dengan perawatan pengelupasan kulit (eksfoliasi) atau krim kulit tanpa resep.

5. Radang sendi (arthritis)

Radang sendi atau yang disebut dengan arthritis merupakan penyakit pada persendian yang pada umumnya diketahui sebagai dampak dari penuaan. Osteoarthritis terjadi sebagai akumulasi dari berbagai tekanan dan juga persendian yang telah terjadi selama bertahun-tahun, dan biasanya akan menyerang pada bagian jempol kaki dan punggung kaki.

Gejala arthritis pada sendi jari kaki kemungkinan dapat memicu penyakit kaki lainnya seperti asam urat, bunion dan hammertoes. Hammertoes adalah kecacatan atau kerusakan pada sendi yang paling dekat dengan ibu jari, sedangkan bunion adalah kondisi tulang yang menonjol di sepanjang tepi kaki, terutama di sisi samping luar jempol kaki.

6. Kaki bengkak

Kaki akan rentan membengkak karena penuaan. Penyebab utamanya masih belum diketahui secara pasti, terlebih jika tidak berhubungan dengan cedera. Tetapi kaki yang mengalami bengkak tersebut diduga disebabkan oleh adanya masalah pada pembuluh vena di bagian kaki dan juga anggota tubuh lainnya secara bersamaan.

7. Bentuk dan ukuran kaki berubah

Terjadinya perubahan pada bentuk dan juga ukuran kaki merupakan efek dari penuaan, namun hal ini tidak banyak disadari. Biasanya ukuran kaki akan bertambah setengah sentimeter atau bahkan lebih. Maka tidak heran jika ukuran pada sepatu menjadi ikut berubah dengan seiring bertambahnya usia. Kondisi tersebut terjadi karena ligamen dan tendon tubuh berhenti berkembang saat di usia tua. Sehingga mengakibatkan lengkungan kaki yang cenderung untuk menurun sehingga akan membuat telapak kaki menjadi rata, tetapi panjang kaki bertambah. Dari perubahan tendon dan ligamen terebut dapat meningkatkan berbagai resiko seperti tendon sobek, tendonitis, atau ketegangan pada otot.

| Masalah Umum Yang Sering Terjadi Pada Kaki Seiring Bertambahnya Usia

Ketahui Kondisi Hip Dysplasia Pada Bayi Akibat Salah Menggendong

Menggendong memang menjadi salah satu aktivitas untuk mendekatkan orang tua dengan anaknya. Tetapi dengan posisi menggendong pada bayi harus diperhatikan dan tidak bisa sembarangan. Salah satu hal yang harus diperhatikan yaitu pada kondisi sendi antara pinggul bayi dan tulang pada bayi. Maka dari itu jangan sampai aktivitas tersebut justru menambah masalah baru yaitu kondisi Hip Dysplasia pada bayi.

cara menggendong bayi yang benar

Apa yang dimaksud dengan Hip Dysplasia pada bayi?

Hip atau yang disebut pinggul adalah bagian yang penting untuk mendukung sebagian besar berat badan dan digunakan untuk menggerakan kaki pada bagian atas sehingga bayi akan bisa jalan, naik tangga dan duduk. Kondisi hip dysplasia merupakan bentuk pada persendian antara pinggul dengan ujung tulang paha bayi yang mengalami tidak normal. Pada bagian yang terdapat di ujung tulang paha normalnya dapat masuk dengan pas ke bagian tulang pinggul. Akan tetapi bayi yang mengalami dysplasia ini, pada bagian tersebut akan bergeser tetapi tidak pada tempatnya.

Pada kondisi ini tidak akan menimbulkan rasa nyeri sehingga bayi yang mengalami hip dysplasia tidak merasakan gejalanya. Sendi antara panggul dan paha bayi masih lunak, lentr dan terbentuk tulang rawan, sehingga akan membuat pinggul bayi menjadi lebih rentan mengalami dislokasi (tulang bergeser dari posisi seharusnya) daripada pinggul orang dewasa. Apabila tidak ada pembebanan yang tidak sesuai maka akan lebih mudah untuk mengalami pergeseran.

Penyebab Hip Dysplasia

Sebenarnya penyebab hip dysplasia sampai sekarang belum diketahui secara pasti, tetapi terdapat beberapa hal yang diguga menjadi pemicu, yaitu :

  • Faktor genetik. Kondisi hip dysplasia bisa 12 kali lebih beresiko pada bayi yan memiliki salah satu anggota keluarganya atau bahkan orang tuanya mengalami hip dysplasia dulunya.
  • Posisi bayi dalam rahim. Posisi bayi sungsang akan beresiko mengalami hip dysplasia lebih besar dibandingkan bayi pada posisi normal didalam rahim ibu.
  • Tulang masih lunak. Sendi antara tulang paha dan juga pinggul yang masih lunak, sehingga mengalami beban yang memberatkan dapat mempengaruhi perubahan pada sendi dengan mudah.

Artikel terkait : Obat Pengapuran Sendi

Begini posisi menggendong bayi dan hip dysplasia

Menurut yang telah dilansir dari laman International Hip Dysplasia Institute, hip dysplasia sebenarnya tidak bisa dicegah 100%. Tetapi ada salah satu cara untuk mengurangi resiko pada seorang bayi yang mengalami kondisi tersebut, yaitu dengan cara menggendong bayi dengan benar. Karena pasalnya, cara untuk menggendong bayi dapat mempengaruhi pada perkembangan postur tubuh secara keseluruhan. Maka dari itu cara menggendong bayi yang kurang benar dapat memicu terjadinya posisi pinggul yang mengalami dislokasi lebih mudah.

Sedangkan menurut Dr. Fettweis mengemukakan bahwa menggendong bayi pada posisi yang tepat maka dapat mencegah terjadinya hip dysplasia. Maka dari itu sangatlah penting memperhatikan posisi bayi ketika digendong dengan kaki yang terpisah antara kanan dan kiri, serta posisi lutut yang berada lebih tinggi daripada sendi pinggul. Pastikan juga bagian bokong menjadi penumpu berat badan bayi.

Berikut ini posisi menggendong bayi yang ideal

Apabila Anda menggendong bayi di bagian depan, sebaiknya posisikan bayi supaya kaki membentuk huruf M. Karena dengan posisi tersebut maka akan sangat sedikit beban di persendian antara pinggul dan paha bayi. Posisi lutut juga akan sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan bokong. Bokong yang sebagai penopang utama, kondisi tersebut tidak akan membuat sendi antara pinggul dan paha menjadi terlalu berat menggantung ke bawah. Serta pastikan wajah bayi terlihat dari atas, jangan terlalu masuk ke bawah dan tertutupi dengan baju yang menggendongnya.

Berikut ini posisi menggendong bayi yang kurang tepat

menggendong bayi dengan benar

Tidak dianjurkan posisi sendi di paha menggantung. Karena posisi tersebut akan memberikan suatu tekanan yang lebih besar pada sendi pinggul dan akan beresiko menimbulkan dysplasia pinggul. Sedangkan pada gambar sebelah kanan adalah posisi yang lebih baik, karena penekanan di sendi pinggul lebih minim dibandingkan dengan posisi menggendong sebelah kiri.

Mari kita lihat cara posisi menggendong kedua

cara kedua menggendong

Untuk posisi gambar sebelah kiri sangat tidak direkomendasikan karena posisi tersebut akan memaksa kaki bayi menjadi terlalu rapat sehingga bisa meningkatkan resiko terjadinya dysplasia pinggul. Jadi prinsipnya sama seperti pada cara menggendong bayi ideal, buatlah suatu tekanan yang minim pada bagian sendi antara pinggul dan paha (khusus gendongan model sling pun). Biarkan kaki melebar ke bagian kanan dan kiri supaya posisinya menjadi stabil dan tidak akan memberatkan sendi di bagian pinggul.

Tips untuk memilih gendongan pada bayi

Memilih gendongan bayi merupakan hal yang sangat pribadi, karena hal tersebut ditentukan dari kenyamanan masing-masing. Tetapi kami akan memberikan berbagai tips untuk memilih gendongan bayi yang tepat :

  • Nyaman untuk orang tua dan bayi. Pilihlah gendongan yang nyaman bagi posisi Anda. Pilih tali yang lebar sehingga dapat menopang berat bayi. Sementara untuk bayi, pilih gendongan yang tidak menyempitkan bagian paha bayi, dan juga tidak terlalu longgar supaya bayi tidak mudah jatuh.
  • Mudah digunakan. Ketika Anda menggunakan gendongan tersebut maka Anda bisa mengaturnya sendiri tanpa bantuan orang lain. Sehingga Anda bisa memasukkan dan mengeluarkan bayi kedalam gendongan dengan mudah.
  • Kokoh. Pastikan juga tempat duduk bayi dan tali pengikatnya mampu untuk menopang berat badan bayi. Apabila Anda menginginkan gendongan untuk jangka waktu yang panjang, maka carilah gendongan yang sangat kokoh untuk menopang pertambahan berat badan bayi.
  • Mudah dibersihkan. Bayi yang suka mengeluarkan makanan dari mulutnya atau menumpahkan makanan sehingga akan sering mengotori gendongan. Maka dari itu pilih gendongan bayi yang bisa untuk dibersihkan.

| Ketahui Kondisi Hip Dysplasia Pada Bayi Akibat Salah Menggendong

Begini Cara Membedakan Antara Kaki Keseleo Atau Patah Tulang

Tidak sedikit orang yang langsung pergi ke tukang urut saat mengalami cedera pada bagian kaki. Padahal bisa jadi cedera yang dialami bukan keseleo, melainkan patah tulang. Kedua kondisi tersebut memang akan merasakan sakit dan mengalami pembengkakan. Akan tetapi dari cara penanganan kedua kondisi tersebut tentu berbeda.

Pada kaki yang mengalami patah tulang tidak boleh dilakukan pemijatan atau diurut. Karena cara tersebut malah akan memperparah kondisinya. Apabila mengalami patah tulang, tentu saja hal yang harus dilakukan yaitu dengan cara berobat ke dokter ahli tulang (ortopeadi). Lalu bagaimana caranya untuk membedakan kondisi patah tukang atau keseleo? Mari kita simak penjelasannya berikut ini.

Berikut ini cara membedakan kaki keseleo dan patah tulang :

cara membedakan keseleo dan patah tulang

Tanda Kaki Keseleo

Pada umumnya kaki keseleo akan terjadi akibat adanya ligamen (pita yang mengikat pada antara dua tulang) yang mengalami robek, terpelintir atau terlalu tertarik, sehingga akan menimbulkan rasa nyeri. Kondisi terpelintir atau robeknya ligamen tersebut disebabkan oleh adanya suatu tekanan dan paksaan pada sendi, seperti selesai melakukan aktivitas fisik yang berat, terjatuh atau tidak sengaja terpelintir kakinya saat melakukan lari.

Artikel terkait : Obat Pengapuran Sendi

Selain rasa nyeri, adapun tanda kaki lainnya yang mengalami keseleo, seperti :

  • Memar pada bagian yang terkilir
  • Terjadi pembengkakan
  • Adanya perubahan warna kulit pada area yang mengalami keseleo

Apabila hal tersebut dialami, maka kaki Anda memang mengalami keseleo. Untuk pengobatannya cukup dengan istirahat kaki dan lakukan pengompresan pada bagian kaki yang bengkak dengan menggunakan kompres air dingin. Atau bisa juga dengan minum obat pereda nyeri jika masih terasa sakit.

Untuk kondisi keseleo yang ringan maka hanya dengan memakan waktu beberapa hari saja hingga sembuh total. Namun jika kondisi semakin parah, maka akan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk sembuh.

Tanda Kaki Patah Tulang

Kondisi patah tulang memiliki gejala yang berbeda, meskipun sama-sama menimbulkan rasa nyeri dan bengkak. Berikut ini tanda-tanda kondisi patah tulang, seperti :

  • Saat jatuh, maka Anda akan merasakan atau mendengar bunyi ‘krek’.
  • Akan merasakan nyeri yang cukup parah meskipun hanya dengan disentuh lembut.
  • Terjadi pembengkakan pada bagian yang mengalami patah tulang.
  • Mengalami memar.
  • Akan terasa mati rasa pada area patah tulang.
  • Rasa sakit ketika berjalan dan tidak mampu untuk mengangkat beban yang berat ataupun untuk menopang beban tubuh sendiri.

Biasanya dalam pemulihan patah tulang membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan keseleo, dan umumnya sekitar 6 minggu atau hingga hitungan bulan baru bisa berjalan lagi seperti biasa. Sebaiknya segera melakukan pemeriksaan supaya mengetahui kondisi yang sebenarnya, jangan langsung melakukan tindakan pemijatan.

Lalu apa akibatnya jika kondisi patah tulang melakukan tindakan pemijatan?

Tindakan pemijatan pada bagian tulang yang patah akan membuat patahan menjadi semakin melebar, bahkan dapat menyebabkan komplikasi yang beraktibat fatal. Selain itu juga bisa beresiko kehilangan anggota gerak yang terkait seperti sindrom kompartemen. Maka dari itu untuk melakukan pemeriksaan diri ke dokter, supaya kita mengetahui pasti apa yang terjadi.

Baca juga :

| Begini Cara Membedakan Antara Kaki Keseleo Atau Patah Tulang

Jenis Olahraga Yang Disarankan Untuk Penderita Nyeri Sendi Lutut

Organ lutut yang berfungsi sebagai tungkai kaki untuk melakukan pergerakan dan berjalan. Didalamnya terdapat kantong cairan yang dapat melumasi permukaan tendon dan juga dapat mengurangi gesekan saat tendon di lutut melakukan pergerakan. Selain itu terdapat bantalan tulang rawan yang disebut dengan meniscus yang berfungsi untuk mengurangi terjadinya benturan antara tulang-tulang pembentuk sendi lutut.

Pada sebagian besar kasus nyeri sendi lutut, osteoarthritis merupakan pemicu yang paling sering terjadi. Osteoarthritis dapat memicu hancurnya tulang rawan yang terdapat diantara sendi, sehingga mengakibatkan tulang saling bergesekan dan akan menimbulkan rasa sakit. Pada usia dewasa merupakan kelompok usia yang paling rawan terkena penyakit tersebut. Meskipun kondisi tersebut dapat terjadi pada penderita usia berapa pun.

Telah kita ketahui bahwa lutut merupakan bagian yang paling sering mengalami luka dibandingkan dengan bagian tubuh lainnya, karena pada kenyataannya lutut akan mengalami beban ketika berat badan bertambah. Menurut salah seorang kepala rehabilitasi medis di rumah sakit New York yaitu Wllibald menyatakan bahwa dengan melakukan olahraga menjadi pengobatan yang terbaik bagi yang menderita nyeri sendi. Tetapi harus dengan teknik yang benar. Lalu olahraga apa saja yang dapat meringankan nyeri sendi pada lutut?

jenis olahraga untuk nyeri sendi lutut

Berikut ini jenis olahraga untuk penderita nyeri sendi lutut :

  • Berjalan kaki

Berjalan kaki adalah salah satu olahraga yang sangat rendah resiko bagi seorang penderita nyeri sendi lutut. Karena dengan berjalan kaki maka tidak akan memberikan suatu tekanan pada bagian lutut secara berlebihan seperti saat berlari.

Artikel terkait : Obat Pengapuran Sendi

  • Berenang

Berenang merupakan jenis olahraga yang menggerakan seluruh bagian otot dan juga sendi pada seluruh tubuh tanpa akan mengakibatkan ketegangan pada otot dan sendi. Dikarenakan olahraga ini dapat memperkuat kedua bagian tersebut. Lakukan olahraga berenang di pagi hari dan berenang di air yang hangat akan membantu dalam meredakan rasa nyeri.

  • Bersepeda

Bersepeda termasuk olahraga low impact untuk lutut. Olahraga low impact merupakan bentuk dari aktivitas fisik yang tidak akan memberikan suatu tekanan berat pada bagian tubuh. Jenis olahraga ini sangat cocok bagi penderita nyeri sendi lutut karena tidak akan meningkatkan kadar stres pada lutut. Namun harus diperhatikan alur jalan dan jangan memilih jalanan mendaki yang terlalu curam, utamakan untuk memilih jalan yang landai. Jika menggunakan sepeda statis, diharuskan untuk mengatur tingkat kemiringannya pada level yang lebih rendah.

  • Yoga

Yoga dapat meningkatkan keseimbangan dan kekuatan otot serta fleksibilitas dari sendi dan otot. Selain itu juga, dengan melakukan olahraga yoga secara rutin maka dapat mengembalikan fungsi dan kekuatan sendi dan otot bahkan dapat menenangkan pikiran.

Baca juga : Berbagai Jenis Olahraga Pencegah Nyeri Sendi Kambuh Lagi

Bagi penderita nyeri sendi lutut maka perlu diketahui untuk menghindari gerakan-gerakan seperti berikut ini :

  • Melompat

Saat melompat maka berarti ibarat menopang sekitar 2-3 kali lipat berat badan. Sehingga mengakibatkan beban pada bagian lutut menjadi bertambah dan beresiko dalam meningkatkan cedera. Hindari untuk melakukan gerakan melompat yang disertai melipat lutut terlalu dalam.

  • Menekuk lutut

Hindari olahraga yang diharuskan melakukan gerakan menekuk lutut. Saat lutut di tekuk, maka akan memberikan tekanan yang tidak semestinya pada tulang-tulang pembentuk sendi lutut dan juga pada tempurung lutut. Sendi lutut dan tempurung akan saling bergesekan. Dengan menekuk lutut maka akan menyebabkan tendon dan juga ligamen lutut menjadi tidak nyaman.

Meskipun sedang mengalami nyeri sendi lutut, bukan berarti Anda harus berhenti bergerak atau berhenti melakukan aktivitas, terlebih lagi jangan berhenti untuk melakukan olahraga. Olahraga memang harus dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kesehatan tubuh, akan tetapi jangan sampai memforsirnya sehingga dapat melukai kondisi lutut yang sedang memerlukan perhatian banyak.

| Jenis Olahraga Yang Disarankan Untuk Penderita Nyeri Sendi Lutut

Faktor-faktor Yang Dapat Mempercepat Pengeroposan Tulang

Tulang keropos atau yang disebut dengan osteoporosis adalah kondisi yang dimana tulang menjadi lebih rapuh sehingga akan meningkatkan kemungkinan untuk mengalami patah tulang. Kondisi osteoporosis yang disebabkan oleh kepadatan tulang yang menurun dan disebabkan karena faktor usia dan faktor lainnya seperti menopause. Tetapi tidak menutup kemungkinan tulang keropos bisa terjadi pada siapa saja tanpa memandang usia. Lalu apa sebenarnya yang menjadi faktor pemicu terjadinya pengeroposan tulang?

Penyebab Tulang Keropos

faktor-faktor yang mempercepat pengeroposan tulang

Seperti yang telah dijelaskan diatas, osteoporosis ini merupakan kondisi tubuh yang kehilangan banyak tulang dan hanya menghasilkan sedikit tulang. Tulang akan terlihat seperti sarang lebah denga ukuran lubang dan jarak yang kecil jika tulang diletakkan dibawah mikroskop.

Pada kondisi ini akan terjadi ketika tulang mengalami kehilangan mineral. Kalsium juga lebih cepat dibandingkan dengan kecepatan tubuh yang menggantikannya sehingga pada massa tulang akan berkurang bahkan mudah patah. Sedangkan pada kondisi yang lebih serius, tulang akan mudah patah hanya karena bersin. Dan berikut ada beberapa faktor yang menjadi penyebab tulang keropos, diantaranya :

  • Hormon tidak seimbang

Ada beberapa hormon yang berperan dalam meningkatkan massa tulang, yaitu hormon paratiroid dan hormon pertumbuhan. Pada kedua hormon tersebut berperan dalam penggunaan kalsium oleh tulang serta dapat menentukan waktu untuk membentuk dan juga menghancurkan tulang. Kurangnya kadar dari kedua hormon tersebut dapat menjadi salah satu penyebab tulang keropos.

Artikel terkait : Obat Pengapuran Sendi

  • Kurang asupan kalsium

Adanya kandungan kalsium dalam darah sangat dibutuhkan oleh beberapa organ seperti jantung, otot dan syaraf. Sedangkan pada tulang yaitu seperti wadah yang digunakan dalam menyimpan kalsium dan juga fosfor. Ketika semua organ tersebut membutuhkan kalsium, maka organ-organ tersebut akan mengambilnya dari tulang.

Perlu diketahui bahwa asupan kalsium yang rendah dalam tubuh, organ yang akan tetap mengambil kalsium dari tulang, sehingga tulang akan mengalami tulang menipis hingga akan memudahkan mengalami patah. Selain itu asupan kalsium, adanya kandungan fosfor dan vitamin D yang cukup dalam tubuh akan sangat dibutuhkan dalam menjaga kesehatan tulang.

  • Aktivitas fisik yang rendah

Kurangnya aktivitas fisik dapat menyebabkan tulang keropos, karena tulang yang jarang digunakan maka tulang akan semakin lemah. Hal ini telah dibuktikan ketika astronot yang kehilangan berat badannya saat diluar angkasa dan tetap mampu untuk bertahan dari kondisi kehilangan massa tulang.

  • Sering merokok

Pada beberapa penelitian yang telah berhasil dilakukan bahwa karena keracunan nikotin pada sel tulang maka dapat menyebabkan tubuh mengalami kesulitan dalam menggunakan estrogen, kalsium dan juga vitamin D yang sangat dibutuhkan dalam menjaga kesehatan tulang.

Tulang merupakan kerangka yang mampu untuk menyangga tubuh, melindungi organ tubuh dari terjadinya benturan dan juga tempat terkaitnya otot sehingga akan digerakkan dengan sambungan tulang satu dan juga yang lainnya sebagai saranya. Selain itu juga tulang yang merupakan penunjang utama tubuh dalam melakukan suatu aktivitas sehari-hari. Untuk mencegah terjadinya tulang keropos lakukan gaya hidup sehat sejak dini guna untuk menjaga kesehatan tulang dengan melalui mengkonsumsi makanan sehat serta rutin melakukan aktivitas fisik.

Baca juga :

| Faktor-faktor Yang Dapat Mempercepat Pengeroposan Tulang